Senin, 14 Desember 2009

Ku Nikahi Engkau dengan Al Qur'an


“Apakah engkau punya sesuatu untuk dijadikan mahar?” “Tidak demi Allah, wahai Rasulullah,” jawabnya. “Pergilah ke keluargamu, lihatlah mungkin engkau mendapatkan sesuatu,” kata Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Laki-laki itu pun pergi, tak berapa lama ia kembali, “Demi Allah, saya tidak mendapatkan sesuatu pun,” ujarnya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Lihatlah lagi dan carilah walaupun hanya berupa cincin dari besi.” Laki-laki itu pergi lagi kemudian tak berapa lama ia kembali, “Demi Allah, wahai Rasulullah! Saya tidak mendapatkan walaupun cincin dari besi, tapi ini izar (sarung) saya –kata Sahl, “Laki-laki itu tidak memiliki rida (kain penutup tubuh bagian atas)”– setengahnya untuk wanita yang ingin kuperistri itu.” Kata Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, “Apa yang dapat kau perbuat dengan izarmu? Jika engkau memakainya berarti tidak ada sama sekali izar tersebut pada istrimu. Jika ia memakainya berarti tidak ada sama sekali izar tersebut padamu.” Laki- laki itu pun duduk hingga tatkala telah lama duduknya, ia bangkit. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melihatnya berbalik pergi, maka beliau memerintahkan seseorang untuk memanggil laki-laki tersebut. Ketika ia telah ada di hadapan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bertanya, “Apa yang kau hafal dari Al- Qur`an?” “Saya hafal surah ini dan surah itu,” jawabnya. “Benar-benar engkau menghafalnya di dalam hatimu?” tegas Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. “Iya,” jawabnya. “Bila demikian, pergilah, sungguh aku telah menikahkan engkau dengan wanita ini dengan mahar berupa surah-surah Al-Qur`an yang engkau hafal,” kata Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

(HR. Al-Bukhari no. 5087 dan Muslim no. 3472)




Rabu, 29 April 2009

Biarkan Cinta Terjaga


Sedari dulu fitrah manusia masih tetap ada dan mangada.
Tetapi terkadang fitrah ini silih berganti mewarnai rasa cinta ini.
Ketika warna cinta itu hijau semakin lama warna hijau itu akan berganti menjadi warna merah setelah sekian lama merah itu akan menjadi warna biru..

Ya Allah, apakah ini hanyalah ujian yang Engkau berikan kepadaku?
Ataukah anugerah-Mu yang Engkau labuhkan dalam lubuk hati ini..

Ketika memang warna itu yang Engkau labuhkan, apakah dadaku ini sanggup menjadi sandaran ketika ia menangis, dan ketika ia mendengar detak jantungku apakah tangisnya akan menjadi senyum yang mengembang?
Sanggupkah cintaku ini tebalkan iman kepadaMu, Ya Allah..
Sanggupkah cintaku ini jadikan dia faham akan tanda-tanda kebesaranMu..
Apakah iman, islam dan ihsanku ini sanggup menjadi payung yang teduh untuk mengiring dia menuju jalan syurgaMu?

Apakah aku sanggup...
Apakah aku sanggup...
Apakah aku sanggup...


Ketika itu menjadi takdir, pertemukanlah kami seakan dalam taman firdausMu..
Yang sekelilingnya penuh dengan bunga yang merkah cerah dan tersamar dengan wangi-wangian kasturi...
Talilah hati kami dalam kalimat syahadatain..

Ya Allah ketika itu bukan waktu yang tepat, jagalah bibit cinta ini dalam hati kami..
Jadikan cinta ini tertidur lelap sebelum dia membangunkan cintaku ataupun sebelum cintanya membangunkanku...
Pupuklah cinta kami dengan ayat-ayatMu, 

Ya Allah yang Maha pemberi cinta, hanyalah padaMu cinta kami bermuara..





Jumat, 29 Februari 2008

Ketika Cinta

Cinta memang sebuah kata abstrak. Kata yang memiliki banyak arti dan sebuah konsekuensi yang harus dirasakan dan dijalani.

Tak akan ada habisnya ketika kita bicarakan sebuah arti kata cinta. Mencinta dan dicinta, adalah fitrah manusia yang diciptakan oleh Sang Pembuat Cinta. Cinta adalah tanda kebesaran Yang Maha Penciptaan atas kesempurnaan manusia.

Kata cinta berangkat dari sebuah tali penghubung antara dua manusia. Laki-laki kepada perempuan ataupun sebaliknya, cinta dianggap sebagai tali merah yang menghubungkan perbedaan antara keduanya. Kata cinta terdapat tingkatan lebih tinggi dari pada kata naksir, suka, sayang. Kata cinta sendiri sangat complicated atau rumit, kata cinta terbentuk dari berbagai banyak unsur baik sifat yang positif maupun negatif. Sayang, peduli, hasrat memiliki, menjaga, membantu, berkorban merupakan beberapa unsur sifat positif. Sedangkan cemburu, nafsu, sikap sangat possesif merupakan beberapa unsur sifat negatif dari cinta. Ingatlah bahwa ketika cinta teraih bukan pada saatnya, hindarilah dan jauhkanlah dari unsur negatif dari cinta. Sungguh cinta akan melenakan, dan jangan sampai terlena. Tunggulah ketika semua unsur cinta berhak muncul… yaitu ketika sepasang manusia, lelaki dan perempuan terikat oleh ikatan yang suci dan sah.

Mungkin ketika sedang kasmaran, hati akan terasa melayang terbang bebas, indah terasa. Ketika melihat orang yang kita cinta seakan melihat sekuntum bunga mawar merah yang terbasahi oleh embun pagi dibalik padang savana yang hijau. Mencinta... Begitulah cinta... sungguh indah.

Cinta dapat digambarkan sebagai cobaan yang menuntut untuk bersabar dan tabah. Cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang berlandaskan dalam manusia akan cintanya pada yang menciptakan cinta, itulah cinta yang paling hakiki. Cinta yang abadi hingga akhir perjalanan hidup. Ketika mencintai seseorang sering berucap cinta hingga akhir hayat, cinta yang berupa kesetiaan, kebersamaan, dan kasih sayang yang akan lenyap hingga perjalanan hidup ini mencapai tujuan akhir. Tetapi jika kita kita mencinta atas dasar cinta kita kepada Sang Pembuat Cinta maka arti dan makna cinta akan terus dirasakan walaupun perjalanan hidup ini usai.

Untuk para pengelana cinta carilah cinta yang hakiki, berjuang dan temukanlah.

"Cintamu kepada sesuatu menjadikan kamu buta dan tuli." (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Written by : addin

Kamis, 15 November 2007

Makna Sebuah Kehidupan

Telah lama aku rasakan hal itu, betapa indah perasaan itu aku alami dan suatu saat perasaan itu berbalik menyerangku. Sesak sakit dan tak berdaya aku telah dibuatnya. Akankah hal ini akan aku pendam lama hingga semua orang tidak tahu apa yang aku rasakan?


Yang bisa aku lakukan hanyalah pasrah dan menunggu saat itu tiba. Saat perasaan itu hilang dan tidak ada yang aku khawatirkan lagi. Aku hanya ingin aku, dia dan yang menciptakan perasaan ini tahu. Apakah aku orang bodoh yang hanya bisa merengek tuk minta belas kasihan kepada orang lain, ataukah aku orang pandai yang bisa menyimpan perasaan itu dan akhirnya akan membusuk dalam jiwaku, selanjutnya akan melumat habis jiwaku hingga hilang. Dan sekali lagi aku adalah manusia yang cuma tunduk pada apa yang Rabb ku anugerahkan padaku, dan aku sadar bahwa itulah fitrahku sebagai manusia yang diberikan kelebihan dari penciptaan manusia dengan makhluk lain.

hidup tidaklah indah, hidup adalah perjuangan tuk capai keindahan yang abadi
Ketika kesabaran adalah suatu jalan.. Akan aku telusuri
ketika cinta adalah tujuan.. Akan aku cari
ketika pengorbanan adalah tumbal.. Akan aku beri

ketika aku meminta kebahagian, Rabb ku berikan penderitaan yang harus aku hadapi
ketika aku ingin ketegaran, Rabb ku berikan cobaan yang harus aku lalui